welcome

istana pijakan pena
be a real

Sabtu, 26 November 2011

LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN



BAB 1
PENDAHULUAN


A.LATAR BELAKANG MASALAH
            Kegiatan Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan yang setua dengan usia manusia.Sistem pendidikan yang di anut oleh setiap Negara akan mewarnai operasionalisasi pendidikanya baik menyangkut isi, bentuk, struktur kurikulum mapun komponen pokok pendidikan yang lain.
Terdapat korelasi antara sistem penndidikan dengan tingkat kemajuan dan kebudayaa suatu kelompok manusia atau suatu bangsa. Makin tinggi kebudayaan suatu bangsa makin tinggi dan makin kompleks proses pendidikan yang terdapat pada bahasa yang bersangkutan.

B. RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan Landasan Filosofis pendidikan?
2.      Apa yang dimaksud dengan Landasan Sosiologis Pendidikan?
3.      Apa yang dimaksud dengan Landasan Kurtural Pendididkan?
4.      Apa yang dimaksud dengan Psikologis Pendidikan?
5.      Apa yang dimaksud Landasan ilmiah dan teknologis pendidikan?
6.      Apa yang dimaksud  Pendidikan Nasional di Indonesia?
7.      Bagaimanakah asas- asas pendidikan Nasional Indonesia?

C. TUJUAN
     Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini diharapkan mampu memahami arti  :
1.       Landasan Filosofis pendidikan
2.       Landasan Sosiologis Pendidikan
3.       Landasan Kurtural Pendididkan
4.       LandasanPsikologis Pendidikan
5.       Landasan ilmiah dan teknologis pendidikan
6.      Landasan Pendidikan Nasional di Indonesia
7.      Asas- asas pendidikan Nasional Indonesia

BAB 2
PEMBAHASAN

                       
1        Landasan Filosofis Pendidikan
Landasan filosofis sebagai sistem nilai merupakan salah satu fondasi pelaksanaan pendidikan degan sistem nilai. sistem nilai merupakan pandangan seseorang tentang  “sesuatu” terutama berkaitan deangan arti kehidupan.(pandangan hidup). Pandangan hidup banga Indonesia  adalah pancasila.sehingga kaidah dan norma sosial maupun sistem nilai yang dianut mengacu pada pancasila.
Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia.

Bagi bangsa Indonesia, pandangan hidupnya adalah Pancasila. Pancasila sebagai landasan filosofis pendidikan mempunyai makna:
- Dalam merumuskan pendidikan harus dijiwai dan didasarkan pada Pancasila.
- Sistem pendidikan nasional haruslah berlandaskan Pancasila.
- Hakikat manusia haruslah diwujudkan melalui pendidikan, sehingga tercipta  manusia Indonesia yang dicita-citakan Pancasila.

Filsafat Pancasila mencakup nilai yang dijunjung tinggi dan dijadikan pedoman perbuatan dan tingkah laku bagi setiap warga negaranya. Landasan filosofis menjadi acuan dalam menentukan tujuan,corak , metode dan alat pendidikan.arah pendidikan hendaknya bermuara pada aspek integritas (individu dan sosial), aspek etis,(taat pada norma-norma pancasila), dan aspek religious (kebebasan agma dan taat pada norma agama yang dipeluknya)


2.      Landasan sosiologis Pendidikan
                  Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan.
a.       Pendidikan dan Masyarakat
            Fungsi pendidikan adalah memelihara kebudayaan. Kebudayaan yang berhubungan dengan nilai – nilai, kepercayaan , norma-norma yang turun temurun dari generasi ke generasi yang selalu mengalami perubahan.
1.      Keluarga dan sekolah
      Keluarga merupakan pelaksana sosialisasi nilai-nilai dan norma-norma di masyarakat. Keluaga tetap mempunyai  tanggung jawab utama dalam sosialisasi, meskipun sekolah  dalam sosialisasi mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan informasi, ketrampilan sebagai bekal agar anak dapat berpartisipsi lebih efektif.
2.      Pemerintah dan sekolah
      Tugas utama pemerintah adalah mengupayakan agar sekolah dapat membentuk masyarakat baru yang dapat bertanggungjawab dan ikut berpartisipasi aktif daam pembangunan masyarakat sesuai dengan garis kebijakan pemerintah. Agar tercipta sistem pendidikan yang mantap
3.      Ekonomi dan Sekolah
      Pertumbuhan ekonomi tergantung pada ketersediaan tenaga ahli yang terlatih dan terdidik yang dihasilkan sekolah. Sedangkan keberadaan dan perkembangan lembaga sekolah tergantung pada dana yang disediakan oleh masyarakat.
4.      Agama dan Sekolah
      Sekolah merupakan salah satu lembaga soaialisasi masyarakat yang bertujuan membekali peserta didik agar dapat hidup di masyarakat
5.      Masyarakat dan Sekolah
      Masyarakat harus ikutserta dalam memelihara keberadaan dan kelangsungan hidup sekolah.  Peran sekolah terhadap masyarakat adalah:
a)      Sebagai pewaris, artinya mentransformasikan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai budaya kepada siswa melalui proses belajar mengajar di dalam kelas maupun kegiatan di luar sekolah
b)      Sebagai pemelihara, artinya melalui sekolah dapat diupayakan kelestarian nilai-nilai budaya yang sudah mapan.
c)      Sebagai agen pembaharuan, yang meliputi reproduksi budaya, difusi kebudayaan, dan peningkatan kemampuan pseerta didik untuk berpikir  kritis.
b.      Pendidikan dan perubahan sosial
            Sekolah dan masyarakat saling mempengaruhi dalam berbagai cara. Baeberapa di antara perubahan tersebut adalah:
1)      Perubahan teknologi
Dilihat dari sudut pandang sekolah , perubahan teknologi mempunyai tiga dampak penting, yaitu:
(a)    Perubahan teknologi dapat menciptakan suatu tuntutan bagi individu untuk memiliki ketrmpilan baru, yang menyebabkan terjadinya perubahan kurikulum pada bidang-bidang yang memenuhi tuntutan tersebut.
(b)   Perubahan teknologi menuntut sekolah mempersiapkan lulusan untuk dapat menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.
(c)    Pengaruh teknologi  terhadap sekolah khususnya dalam penggunaan media pembelajaran, komuniksi, transformasi dan revolusi biologi
2)      Perubahan Demografi
      Perubahan yang terjadi sehubungan dengan ukuran, penyaluran, dan komposisi penduduk. Pegaruhnya terhadap pendidikan antara lain:
(a)     Pengebangan kebijaksanaan pendidikan.
(b)   Pembatasan secara ketat penerimaan siswa baru
(c)    Ketidakseimbangan antara pertambahan penduduk dengan fasilitas pendidikan.
3)      Urbanisasi dan sub-urbanisasi
Meningkatnya urbanisasi dan sub urbanisasi sebagai dampak dari perubahan demografi menimbulkan permsalahan yang harus dihadapi oleh sekolah. Beberapa diantaranya yaitu:
(a)    Tanggung jawab sekolah  dalam menyesuaikan diri dari berbagai kelompok
(b)   Peranan sekolah yaitu membantu mekanisme control sosial di masyarakat.
(c)    Sekolah menentukan pengalaman pendidikan khususnya dalam mempersiapkan peserta didik secara tepat untuk hidup di perkotaan
4)      Perubahan politik masyarakat bangsa, dan Negara
      Perubahan tersebut akan terus berlangsung yang berdampak terhadap pendidikan, terjadi dalam struktur pemerintahan dan di dalam masyarakat, yaitu:
(a)    Meningkatnya keterlibatan pemerintah di dalam kegiatan-kegiatan dalam masyarakat.
(b)   Berkembangnya saling ketergantungan antara pemerintah Negara yang satu dengan Negara yang lain.

3.      landasan kultural pendidikan
Pendidikan dapat dikonsepsikan sebagai proses budaya manusia .Kegiatanya dapat berwujud sebagai upaya yang dipikirkan, dirasakan, dan dikehendaki manusia. Pada dasarnya pendidikan meruoakan unsure dan peristiwa budaya . Pendidikan melibatkan sekaligus sebagai kiat dan disiplin pengetahuan yang mempengaruhi manusia untk belajar . Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan merupakan proses budaya, yakni generasi manusia berturut – turut mengambil peran, sehingga menghasilkan peradaban masa lampau dan mengambil peranan di masa kini serta mampu menciptakan peradaban di masa depan . Dengan kata lain pendidikan memiliki tiga peran, sebagai pewarisan, sebagai pemegang peran, dan sebagai pemberi konstribusi
            Pada hakikatnya manusia sebagai makhluk budaya dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat.Salah satu cara untuk memelihara kebudayaan adalah melalui pengajaran Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai penyampai, pelestari, dan sekaligus pengembangan kebudayaan.

a.       Kebudayaan dan Sekolah.
            Tradisi kebudayaan menghambat perkembangan dalam berkompetisi dengan kelompok lain.Sejalan dengan penelitian Otto Klinerberg (1954), bahwa kegagalan kelompok minoritas pada umumnya bukan disebabkan semata-mata oleh rasa atau suku, namun disebabkan oleh tradisi budaya mereka .
b.      Prasangka dan pertentangan di berbagai kelompok budaya .
      Pertentangan yang disebabkan oleh adanya berbagai kelompok budaya dan ras dapat berupa prasangka negatif diantara sesama kelompok dan hal ini berpengaruh terhadap pendidikan .
c.       Sterotipe.
      Keefektifan dalam pengajarntimbul dan siswa akan lebih terbimbing, serta keseganan dan rasa takut berkurang , jika gueu menunjukan sterotipe yang menyenangkan .
d.      Faktor budaya dalam proses pengajaran .
      Mengajar merupakan upaya mengkomunikasikan secara jelas tentang nilai – nilai pengajaran.Faktor yangmempengaruhisepert: nilai–nilai budaya orang tua, penggunaan bahasa, keadaan sosial yang dibawa anak dari lingkungan dan pengaruh kelompok dominan.Keadaan ini mensyaratkan,perhatianpemahaman,dan penyesuaian guru agar peran serta orang tua dalam dalam kegiatan sekolah dapat tercipta .


e.       Pelatihan budaya untuk pendidikan.
      Perlu dikembangkan kondisi sekolah yang di dalamnya terdapat pertentangan antar kelompok mayoritas dan minoritas yang sering menghadapi konflik budaya antara guru, siswa, dan orang tua . Kenyataan ini menuntut adanya kepelatihan  budaya bagi pendidik agar ia mampu menghubungkan nilai – nilai budaya dengan pengajaran dan proses pengajaran.
f.       Masalah kewibawaan merupakan ubahan ( variable ) yang tidak dapat diabaikan.
      Penguasaan terhadap kewibawaan guru lebih membantu siswa dalam penguasaan bahan – bahan pengajaran .
g.      Sub kebudayaan
      Perbedaan warna kulit dan kemiskinan menjadi penghambat dalam pelaksanaan pendidikan. Karena kelompok – kelompok tersebut saling menolak terhadap pelayanan sekolah. Hambatan ini dapat diatasi melalui pendidikan orang tua, memadukan sub kebudayaan sekolah, mengadakan penyesuaian tingkah laku di sekolah dan kurikulum sekolah wajib memperhatikan latar belakang budaya siswa .
h.      Dinamika kelompok sosialisasi.
            Sekolah harus mampu menghilangkan adanya kelompok – kelompok minoritas dan membawanya kea rah perubahan melalui proses sosialisasi.

4.      Landasan Psikologis Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi utama yang terdiri atas implikasi teknik psikologi pendidikan. Fungsinya untuk mengembangkan suatu pengertian yang berarti  dan teoritis yang lebih unik terhdap proses pendidikan yang didasarkan penemuan empiris.                  Keahlian pedagokik sangat tergantung pada sekumpulan pengetahuan yang tersusun dalam sistematika tentang mekanisme proses belajar mengajar, proses ini bersifat psikologis
              Perhatian utama pada psikologi  pendidikan adalah:
(a)    Sifat dan karakteristik siswa
(b)   Sifat proses belajar mengajar
(c)    Cara guru membuat  proses belajar siswa
(d)   Penetapan prinsip-prinsip ilmiah
          Psikologi sebagai ilmu bantu mendasari pelaksanaan pendidikan berorientasi pada hal yaitu hakikat siswa, proses belajar dan pengenalan guru. Dari ketiga hal tersebut kedudukan guru sebagai sentral pengendalian proses belajar  mengajar.maka dalam penyampaian pesan guru mendasarkan bahwa
(a)    Perbedaan individu siswa
(b)   Belajar (prinsip-prinsip belajar)
Teori belajar dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu:
a.       Teori disiplin mental, meliputi:
1)      Disiplin mental yang mengartikan belajar sebagai usaha melatih atau mendisiplinkan daya pikir.
2)      Pemekaran secara alami, memberikan peluang  subjek didik agar berkembang sesuai kehendak  sang pencipta.
3)      Apresiasi merupakan proses asosiasi ide-ide lama yang telah terdapat dalam  jiwa kita
b.      Rumpun Behaviorisme
1)      Conditioning S-R merupakn perubahan dalam tingkah laku yng dapat diamati dan dapat terjadi melalui stimulus dan respon yang dihubungkan dengan prinsip mekanis
2)      Conditioning tanpa reinforcemen.
3)      Conditioning melalui reinforcemen
c.       Rumpun Gestal- Medan.
1) Teori Insight, tokohnya M. whertheimer dan Koffa. Aliran ini brpendirian, bahwa keseluruhan  lebih bermakna daripada bagian-bagian. Manusia berusaha aktif mencapai tujuan dan individu bertindak atas berbagai pengaruh didalam dan di luar individu.
2) goal-Insight (pemahaman bertujuan).
3) Medan-Kognitif
              Menurut Rogers ada cita-cita pokok dan kepribadian manusia, yaitu:
a)      Realitas bersifat fenomenalogis
b)      Tingkah laku sesorang terjadi idalam konteks realitas pribadi
c)      Tingkah laku seseorang dimotivasi oleh kebutuhan untuk aktualisasi diri.
d)      Jati diri tersusun oleh masing- masing individu
e)      Tingkah laku kita adalah koform dalam arti kata dengan diri kita sendiri
Ada tiga model pandangan guru dalam hal menentukan sikap terhadap teori-teori belajar yang ada
1)      Mengikuti suatu teori tertentu
2)      Bersifat elektik, secara  secara selektif meminjam berbagai teori yang tidak bertentanga.
3)      Mesintesiskan bagian-bagian dari teor beiajar  tertentu sesuai dengan idenya sendiri
              Ada 4 hal yang harus diperhatikan demi berhasilnya kegiatan belajar., yaitu:
Yang harus diperhatikan demi keberhasilan kegiatan belajar adalah:
            - stimulus belajar
            - perhatian siswa
            - keaktifan siswa
            - penguatan dan umpan balik

5.      Landasan Ilmiah Teknologis Pendidikan
              Salah satu misi pendididikan adalah membekali peserta agar dapat mengembangkan iptek kegiatan teknologi adalah proses memproduksi barang dan jasa, yang juga menghasilkan sejumlah konsep dan metode mengenai proses produksi tersebut. Hubungan antara pendidikan dan iptek saling bergantung dan timbal balik, artinya kemajuan pendidikan diarahkan untuk kemajuan iptek.
              Menurut Tosten Husen (1988:212) ada bebepa asumsi yang beriringan dengan  kemajuan iptek, yaitu:
a.       Pendidikan akan menjadi prose belajar seumur hidup.
b.      Pendidikan tidak kan lagi terputus – putus
c.       Pendidikan formal lebih mempunyai arti dan relevan dalam hal penerapanya.

6.      Landasan pendidikan Nasional Indonesia
              Untuk pencapaian terhadap cita – cita dan tujuan nasional, maka pembangunan pendidikan nasional harus memiliki dasar hokum yang kuat,  sesuai dengan dasar dan falsafah NKRI 17 Agustus 1945. Dasar hukum pembangunan pendidikan nasional Indonesia adalah sebagai berikut
1)      Landasan Ideal                  : Pancasila
2)      Landasan Konstitusional    : UUD 1945
3)      Landasan Operasional       : GBHN dan UUSPN
                          Tujuan pendidikan nasional diarahkan untuk mencapai tujun nasional, yang sejak orde lama pelaksanaanya dilakukan secara bertahap melalui pembangunan nasional semesta berencana 9 tahun (1961-1969) .
                          Sedangkan untuk operasinalisasi pendidikan nasional, telah dikeluarkan UU pokok Pendidikan Nasional. UU Pokok Pendidikan Nasional yang pernah ada di negara kita sebagai usaha pembangunan pendidikan nasional  antara lain:
1)      Undang-Undang No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar – Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah.
2)      UU No. 12 Tahun 1945tentang pernyataan berlakunya UU No. 4 1950
3)      UU No. 22Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi
4)      UU No.14 Tahun 9tentang pernyataan berlakunya UU No. 4 1950
5)      UU No. 22Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi
6)      UU No.14 Tahun 1965 Tentang Pokok- Pokok Sistem Pendidikan Nasional
7)      UU NO. 20 Tahun 2003 tentng Sistem Pendidikan Nasional yang sekarang berlaku.

7.      Asas – asas Pelaksanaan Pendidikan Nasional Indonesia
`                                 Pendidikan Nasional adalah usaha sadar untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang bertakwa kepada tuhan yang maha Esa. Dengan mengusahakan perkembangan kehidupan beragama kehidupan berkepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, nilai budaya, pengetahuan, ketrampilan, daya estetis dan jasmaninya, sehingga ia dapat mengembangkan dirinya dan bersama daengan sesama  manusia membangun masyarakatnya serta membudayakan alam sekitarnya.
              Pendidikan Nasional bertujuan meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, kecerdasn, budi pekerti, memperkuat kepribadiandan sebaginya.Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan warga Negara Indonesia baik secara pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.

              Pendidikan Nasional dilaksanakan dengan memperhatikan asas- asas pelaksanaan sebagai berikut:
a.       Asas semesta, menyeluruh dan terpadu
b.      Asas pendidikan seumur hidup
c.       Asas tanggung jawab bersama antar keluarga, masyarakat, pemerintah
d.      Asas Pendidikan berlangsung dalam lingkungan rumah tangga masyarakat, dan masyarakat.
e.       Asas keelarasan dan keterpaduan dengan Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara
f.       Asas Bhineka Tunggal Ika
g.       Asas keselarasan, keserasian dan keseimbangan
h.      Asasmanfaat, adil dan merata
i.        Asas ing ngarso sung tuladaha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang berarti bahwa seorang pendidik harus member teladan di depan, member motivasi di tengah, dan mengawasi dari belakang.
j.        Asas mobilitas, efisiensi dan efektifitas, yang memungkinkan pengadaan kesempatan seluas-luasnya bagi setiap manusia Indonesia.
k.      Asas kepastian hokum, berarti bahwa sistem pendidikan nasional dilaksanakan atas dasar peraturan perundang-undangan (komisi pembaharuan Pendidikan Nasional)
              Asas – asas pelaksanaan pendidikan nasional pada hakekatnya adalah fundamen (dasar)yang menjiwai dan mewarnai pelaksanaan pendidikna dalam rangka mencapai tujuan pendididikan.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar